Rabu, 23 November 2011

Puisi untuk IBU



Ibu...
adalah wanita yang telah melahirkanku
merawatku
membesarkanku
mendidikku
hingga diriku telah dewasa

Ibu...
adalah wanita yang selalu siaga tatkala aku dalam buaian
tatkala kaki-kakiku belum kuat untuk berdiri
tatkala perutku terasa lapar dan haus
tatkala kuterbangun di waktu pagi, siang dan malam

Ibu...
adalah wanita yang penuh perhatian
bila aku sakit
bila aku terjatuh
bila aku menangis
bila aku kesepian

Ibu...
telah kupandang wajahmu diwaktu tidur
terdapat sinar yang penuh dengan keridhoan
terdapat sinar yang penuh dengan kesabaran
terdapat sinar yang penuh dengan kasih dan sayang
terdapat sinar kelelahan karena aku

Aku yang selalu merepotkanmu
aku yang selalu menyita perhatianmu
aku yang telah menghabiskan air susumu
aku yang selalu menyusahkanmu hingga muncul tangismu

Ibu...
engkau menangis karena aku
engkau sedih karena aku
engkau menderita karena aku
engkau kurus karena aku
engkau korbankan segalanya untuk aku

Ibu...
jasamu tiada terbalas
jasamu tiada terbeli
jasamu tiada akhir
jasamu tiada tara
jasamu terlukis indah di dalam surga

Ibu...
hanya do'a yang bisa kupersembahkan untukmu
karena jasamu
tiada terbalas

Hanya tangisku sebagai saksi
atas rasa cintaku padamu

Ibu..., I LOVE YOU SO MUCH
juga kepada Ayah...!!!

Sabtu, 17 September 2011

Sahabat Sejati

Dia menyayangimu,,,
tetapi bukan kekasihmu!!

Dia perhatian kepadamu,,,
tetapi bukan keluargamu!!

Dia siap berbagi rasa sakit,,
tetapi bukan saudaramu!!

Dia adalah Sahabatmu
Sahabat Sejati

Marah seperti ayah
Peduli seperti ibu

Mengganggu seperti kakak
Mengesalkan seperti adik

Tetapi Dia menyayangimu
lebih dari kekasihmu

TEMAN HATI (Kekasih hati)

Kala itu mampu kulepaskan kepedihan dari hatimu
Semangatku pun bergelora menapaki jalan hidup ini
Sebelum bersua denganmu, kesepian aku berkelana
Biar kurasakan hangatnya jemarimu

Cinta senantiasa meninabobokkan
Tatkala lelah dalam perjalanan
Ingatlah diriku sebagai teman hati

Bahkan hati yang saling percaya terlupa entah di mana
Mengapa orang-orang mengejar kebahagiaan yang telah berlalu
Pejamkan matamu perlahan dan singkapkan jendela hatimu
Raih tanganku dan usap air matamu

Cinta senantiasa meninabobokkan
Tatkala lelah dalam perjalanan
Ingatlah diriku sebagai teman hati

TENTANGMU

Kau membuatku luluh dengan semua yang ada pada
dirimu…

Kau membuatku tersenyum ketika aku melihat kau
tersenyum meski itu bukan untukku…

Kau membuatku terkagum ketika kau menunjukkan
kelebihanmu..

Kau membuatku akan selalu mencintaimu ketika kau bisa
menjaga dirimu sendiri dengan baik…

Kau membuatku akan tetap menjadi diriku sendiri ketika
kau mulai mengerti apa yang kumau…

Kau membuatku khawatir ketika kau harus pulang sendirian
di gelapnya malam… Dan aku menangis karena, aku tak
bisa ada disampingmu untuk menjagamu dari semua yang
ada di kegelapan malam…

Kau membuatku gugup ketika kau berada disebelahku…

Kau membuatku ingin tersenyum ketika kau berjalan
berlawanan arah lalu, menatap mataku…

Kau membuatku malu ketika aku tak bisa berucap sepatah
katapun untukmu…

Kau membuat hatiku terpukul ketika kau terdiam tanpa
sedikit berucap karena, suatu hal…

Kau membuatku tak akan pernah menyesal akan semua
yang tlah terjadi ketika, kau menunjukkan
jiwa muslimahmu yang penuh dengan teka-teki tersembunyi…

Kau membuat hatiku yang mati, menjadi hidup ketika kau
memberikanku semangat…

Kau membuatku bingung ketika kau menyembunyikan
sesuatu yang tak boleh aku tahu…

Kau membuatku terlalu mencintaimu…
Hingga aku sering melamuni semua tentangmu…

Kau membuatku semakin mengerti kenapa aku bisa jatuh
cinta kepadamu…

Kau membuatku semakin paham tentang bagaimana aku
harus bertindak…

Kau membuatku semakin menyayangimu ketika aku
mendengar komentar dari orang yang sebenarnya, aku
tahu kau tidak seperti itu…

Aku tahu, aku tak-kan selalu bisa untuk ada di
sampingmu…
Namun, aku akan berusaha tuk bisa menjagamu meski itu
hanya dari kejauhan…

Aku tahu, aku hanyalah manusia yang selalu diam dan diam…
Namun, aku akan bertindak ketika aku harus bertindak…

Aku tahu, aku terlalu lemah untukmu…
Namun, aku akan menunjukkan seberapa tangguhnya
diriku disaat waktu mulai membuat hatiku terpaksa
menunjukkan ketangguhanku…

Jutaan kata tentangmu tersusun rapi di hatiku…
Kan kurawat kata-kata itu agar tidak ternodai dengan apapun…

Terkadang kata-kata yang tlah kurangkai untuk diriku sendiri…
Tidak bisa kupertanggung jawabkan dengan baik…
Hingga aku harus memperbaiki kata-kata itu…
Namun, disaat kau memberiku semangat untuk bisa
memperbaikinya…. Kata-kata itu menjadi sesuatu yang lebih berharga…
Dan aku merasa semakin sanggup tuk mempertanggung jawabkannya…

Kau adalah satu-satunya bunga yang bisa menghiasi
hidupku dengan indahnya warnamu…
Kau kan selalu membuatku terkagum hingga akhir
hidupku…

I LOVE YOU

andaikan bz ..
kn ku torehkan tinta d'lembaran itu ..
menuliskan ttg kasihMu ..

Andaikn bza ..
Kn ku lukiskan indah karyaMu
di dalam hidupku ..

Andaikn bz ..
Kn ku genggam jemari tnganMu ..
Yang berlubang tanda cinta ..

Andaikn bz ..
Ingin ku berteriak I LOVE U hingga menembus ruang dan waktu ..
Mencapi tahta kemuliaanMu ..

Ku ingin slalu menjadi milikMu ..
Menikmati cintaMu ..
Dan mencintaiMu slalu yg tlah mati untukku ..

Indah rancanganMu dalan hidupku ..
Tiada sperti Engkau ,yg mencintaiku apa adanya ..
Kau jadikn ak indah di mataMu ..

Saat ini ku tau ..
Kaulah Cinta sejatiku ..
I LOVE U now . tommorow . nd forever ..

Mencintaimu Selamanya

cinta yang aku punya
ku tau ku takkan bisa memilikimu sepenuhnya
ku tau ku takkan mampu menyayangi hatimu
dengan cintaku

tapi ku tau ku mencintaimu setulus hatiku
karna ku tau kau hanya ada di dalam hatiku
yang tak bisa aku miliki seutuhnya
kerna ku bahagia melihat kau bahagia
meski luka yang aku rasa

tapi ini lah cinta
cinta yang aku punya
cinta yang tercipta
cinta yang ada di dalam dada
cinta yang akan membuatku bahagia
walau takkan bisa aku miliki selamanya,

Penantian Cinta

sampai kapan
aku akan menunggumu
tak pusakah kau melihat air mataku ini
yang keluar akan menahan
smua terpaan yang kau beri

oh cinta sadarlah
bahwa aku disini
telah siap memberikan smua ketulusan
kasih sayang yang selamanaya
hanya untukmu
mengertilah bahwa
aku memang yang terbaik buatmu

Penantian Cinta

Penantian Cinta

Cerita Cinta Buwat Dirimu

Aku seolah baru sekolah bahasa ku eja,
Kata kugali,
Makna kurangkai percakapan
Aku tak bisa merangkai kata mutiara
Yang bisa kujadikan anting tiara
Agar bisikanku berkilau di kupingnya

Ungkapan tersirat dari lembut bibirnya
Telah kautuliskan namaku pada setiap huruf di puisimu.
Lihatlah huruf-huruf cinta itu menyusun dongeng di dcakrawala

Engkau menggelitik ujung penaku menggoda setiap kata untuk menari
bersamamu,
Engkau hadir di sisiku dengan bara melampaui hangatnya matahari.
Embun yang turun pun menjelma api,
Membakar langit yang hanyut di sudut mataku.

Tak ada puisi di ambang senja itu
Jika kau tak membisikkannya untukku,
Membangunkanku dari tumpukan kertas mimpi

Bias cahaya bulan melukis malam jadi taman.
Kubayangkan kau di sini, di pangkuan.
Memetik angin mendawaikan lagu,
Seirama detak jantung memperjelas rindu.

Pemandangan selalu lebih indah,
Ketika tatap matamu bersinar di pangkuan
Mungkin kau titipkan kerling matamu pada embun.
Kukecup keningmu pada setangkai kuntum.

Aku mencintaimu,
Rindu
Menjadi pertemuan paling indah ketka kamu tak di sisiku.
Hanya rindu
Mampu menyempurnakan percakapan kita
Yang kadang tak bisa diakhiri dengan ciuman.

Malam lebih panjang,
Memikirkan kamu seorang.

Di balik cerahnya bintang, kaukah mengarahkan kompas hatiku.
Untuk kutemukan doamu yang kau titipkan pada langit jauh.
Jejak-jejakmu melindungi setiap kenangan,
Menciptakan bayangan yang berjaga di lensa mata.
Sungguh,
Aku kangen kamu

Satu Cinta Untukmu

Malam ini kubangun mimpi
berharap besok menjadi matahari
yang terjaga di jendela

membakar segala kelam dan dinginnya malam
lalu sunyi menjadi reruntuhan purba
sebab nyanyian pagi bersamamu,
senandung lautan itu telah mengubah peradaban cintaku.

Pagi ini kubangun dari mimpi
O, perempuan yang menggenggam kelopak bunga
yang terjaga di jendela hatiku

yang merebahkan tubuhnya dan kukecup wangi keningnya
bukankah kautemukan bahwa setiap pagi
pada dekapan di dada
selalu ada matahari yang membara untukmu.

Sabtu, 03 September 2011

SAIFUL JAMIL kecelakaan, istrinya tewas !

Turut berduka gan, istri artis saipul jamil tewas. ??
Padahal mereka pengantin baru gan


Ini beritanya

detikcom - Jakarta, Kendaraan yang ditumpangi pedangdut Saipul Jamil mengalami kecelakaan di Tol Padalarang Km 97 arah Jakarta. Mobil Avanza yang ditumpangi Saiful itu mengalami kecelakaan tunggal.

"Itu kecelakaan tunggal, dilaporkan 1 orang meninggal, seorang wanita," kata Kepala Humas Jasa Marga Purbaleunyi, Iwan Mulyawan saat dihubungi detikcom, Sabtu (3/9/2011).

Kecelakaan terjadi sekitar pukul 10.00 WIB. Iwan belum bisa merinci bagaimana kecelakaan terjadi. "Arus lalu lintas sempat tersendat," imbuh Iwan.

Kendaraan sudah dievakuasi. Saipul Jamil diketahui mengalami luka ringan, sedang seorang wanita yang diidentifikasi bernama Virginia sudah tidak tertolong.

"Kabar yang kami dapat itu istrinya. Korban sekarang sudah dibawa ke rumah duka di Bandung," tutur Iwan.



Sumber : http:// www.detiknews..com/read/2011/09/ 03/110139/1714877/10/mobil-artis-saiful-jamil-kecelakaan-di-to l-padalarang-1-tewas

Sabtu, 27 Agustus 2011

Lolos Dari Maut

Karena dianggap hampir membunuh Baginda maka Abu Nawas mendapat
celaka. Dengan kekuasaan yang absolut Baginda memerintahkan prajurit-
prajuritnya langsung menangkap dan menyeret Abu Nawas untuk dijebloskan ke
penjara.

Waktu itu Abu Nawas sedang bekerja di ladang karena musim tanam kentang
akan tiba. Ketika para prajurit kerajaan tiba, ia sedang mencangkul. Dan tanpa
alasan yang jelas mereka langsung menyeret Abu Nawas sesuai dengan titah
Baginda. Abu Nawas tidak berkutik. Kini ia mendekam di dalam penjara.

Beberapa hari lagi kentang-kentang itu harus ditanam. Sedangkan istrinya tidak
cukup kuat untuk melakukan pencangkulan. Abu Nawas tahu bahwa tetangga-
tetangganya tidak akan bersedia membantu istrinya sebab mereka juga sibuk
dengan pekerjaan mereka masing-masing. Tidak ada yang bisa dilakukan di
dalam 'penjara kecuali mencari jalan keluar.

Seperti biasa Abu Nawas tidak bisa tidur dan tidak enak makan. la hanya makan
sedikit. Sudah dua hari ia meringkuk di dalam penjara. Wajahnya murung.

Hari ketiga Abu Nawas memanggil seorang pengawal. "Bisakah aku minta tolong
kepadamu?" kata Abu Nawas membuka pembicaraan.

"Apa itu?" kata pengawal itu tanpa gairah.
"Aku ingin pinjam pensil dan selembar kertas. Aku ingin menulis surat untuk
istriku. Aku harus menyampaikan sebuah rahasia penting yang hanya boleh
diketahui oleh istriku saja."

Pengawal itu berpikir sejenak lalu pergi meninggalkan Abu Nawas.

Ternyata pengawal itu merighadap Baginda Raja untuk melapor.

Mendengar laporan dari pengawal, Baginda segera menyediakan apa yang
diminta Abu Nawas. Dalam hati, Baginda bergumam mungkin kali ini ia bisa
mengalahkan Abu Nawas:

Abu Nawas menulis surat yang berbunyi: "Wahai istriku, janganlah engkau
sekali-kali menggali ladang kita karena aku menyembunyikan harta karun dan
senjata di situ. Dan tolong jangan bercerita kepada siapa pun."

Tentu saja surat itu dibaca oleh Baginda karena beliau ingin tahu apa
sebenarnya rahasia Abu Nawas. Setelah membaca surat itu Baginda merasa
puas dan langsung memerintahkan beberapa pekerja istana untuk menggali
ladang Abu Nawas. Dengan peralatan yarig dibutuhkan mereka berangkat dan
langsung menggali ladang Abu Nawas. Istri Abu Nawas merasa heran.
Mungkinkah suaminya minta tolong pada mereka?
Pertanyaan itu tidak terjawab karena mereka kembali ke istana tanpa pamit.
Mereka hanya menyerahkan surat Abu Nawas kepadanya.
Lima hari kemudian Abu Nawas menerima surat dari istrinya. Surat itu
berbunyi: "Mungkin suratmu dibaca sebelum diserahkan kepadaku. Karena
beberapa pekerja istana datang ke sini dua hari yang lalu, mereka menggali
seluruh ladang kita. Lalu apa yang harus kukerjakan sekarang?"

Rupanya istrinya Abu Nawas belum mengerti muslihat suaminya. Tetapi dengan
bijaksana Abu Nawas membalas: "Sekarang engkau bisa menanam kentang di la-
dang tanpa harus menggali, wahai istriku."

Kali ini Baginda tidak bersedia membaca surat Abu Nawas lagi. Bagi.nda makin
mengakui keluarbiasaan akal Abu Nawas. Bahkan di dalam penjara pun Abu
Nawas masih bisa melakukan pencangkulan.

********

Abu Nawas masih mengeram di penjara. Namun begitu Abu Nawas masih bisa
menyelesaikan pekerjaannya dengan memakai tangan orang lain.
Baginda berpikir. Sejenak kemudian beliau segera memerintahkan sipir penjara
untuk membebaskan Abu Nawas. Baginda Raja tidak ingin menanggung resiko
yang lebih buruk. Karena akal Abu Nawas tidak bisa ditebak. Bahkan di dalam
penjara pun Abu Nawas masih sanggup menyusahkan prang. Keputusan yang
dibuat Baginda Raja untuk melepaskan Abu Nawas memang sangat tepat.
Karena bila sampai Abu Nawas bertambah sakit hati maka tidak mustahil
kesusahan yang akan ditimbulkan akan semakin gawat.

Kini hidung Abu Nawas sudah bisa menghisap udara kebebasan di luar. Istri Abu
Nawas menyambut gembira kedatangan suami yang selama ini sangat
dirindukan. Abu Nawas juga riang. Apalagi melihat tanaman kentangnya akan
membuahkan hasil yang bisa dipetik dalam waktu dekat.

Abu Nawas memang girang bukan kepalang tetapi ia juga merasa gundah.
Bagaimana Abu Nawas tidak merasa gundah gulana sebab Baginda sudah tidak
lagi memakai perangkap untuk memenjarakan dirinya. Tetapi Baginda Raja
langsung memenjarakannya. Maka tidak mustahil bila suatu ketika nanti
Baginda langsung menjatuhkan hukuman pancung. Abu Nawas yakin bahwa saat
ini Baginda pasti sedang merencanakan sesuatu. Abu Nawas menyiapkan payung
untuk menyambut hujan yang akan diciptakan Baginda Raja. Pada hari itu Abu
Nawas mengumumkan dirinya sebagai ahli nujum atau tukang ramal nasib.

Sejak membuka praktek ramal-meramal nasib, Abu Nawas sering mendapat
panggilan dari orang-orang terkenal. Kini Abu Nawas tidak saja dikenal sebagai
orang yang hartdal daiam menciptakan gelak tawa tetapi juga sebagai ahli
ramal yang jitu.
Mendengar Abu Nawas mendadak menjadi ahli ramal maka Baginda Raja Harun
Al Rasyid merasa khawatir. Baginda curiga jangan-jangan Abu Nawas bisa mem-
bahayakan kerajaan. Maka tanpa pikir panjang Abu Nawas ditangkap.

Abu Nawas sejak semula yakin Baginda Raja kali ini berniat akan menghabisi
riwayatnya. Tetapi Abu Nawas tidak begitu merasa gentar. Mungkin Abu Nawas
sudah mempersiapkan tameng.

Setelah beberapa hari meringkuk di dalam penjara, Abu Nawas digiring menuju
tempat kematian. Tukang penggal kepala sudah menunggu dengan pedang yang
baru diasah. Abu Nawas menghampiri tempat penjagalan dengan amat tenang.
Baginda merasa kagum terhadap ketegaran Abu Nawas. Tetapi Baginda juga
bertanya-tanya dalam hati mengapa Abu Nawas begitu tabah menghadapi
detik-detik terakhir hidupnya. Ketika algojo sudah siap mengayunkan pedang,
Abu Nawas tertawa-tawa sehingga Baginda menangguhkan pemancungan.

Beliau bertanya, "Hai Abu Nawas, apakah engkau tidak merasa ngeri
menghadapi pedang algojo?"

"Ngeri Tuanku yang mulia, tetapi hamba juga merasa gembira." jawab Abu
Nawas sambil tersenyum.

"Engkau merasa gembira?" tanya Baginda kaget.
"Betul Baginda yang mulia, karena tepat tiga hari setelah kematian hamba,
maka Baginda pun akan mangkat menyusul hamba ke Hang lahat, karena hamba
tidak bersalah sedikit pun." kata Abu Nawas tetap tenang.

Baginda gemetar mendengar ucapan Abu Nawas. dan tentu saja hukuman
pancung dibatalkan.

Abu Nawas digiring kembali ke penjara. Baginda memerintahkan agar Abu
Nawas diperlakukan istimewa. Malah Baginda memerintahkan supaya Abu
Nawas disuguhi hidangan yang enak-enak. Tetapi Abu Nawas tetap tidak kerasa
tinggal di penjara. Abu Nawas berpesan dan setengah mengancam kepada
penjaga penjara bahwa bila ia terus-menerus mendekam dalam penjara ia bisa
jatuh sakit atau meninggal Baginda Raja terpaksa membebaskan Abu Nawas
setelah mendengar penuturan penjaga penjara.

*****

Cita-cita atau obsesi menghukum Abu Nawas sebenarnya masih bergolak,
namun Baginda merasa kehabisan akal untuk menjebak Abu Nawas.

Seorang penasihat kerajaan kepercayaan Baginda Raja menyarankan agar
Baginda memanggil seorang ilmuwan-ulama yang berilmu tinggi untuk
menandingi Abu Nawas. Pasti masih ada peluang untuk mencari kelemahan Abu
Nawas. Menjebak pencuri harus dengan pencuri.Dan ulama dengan ulama.
Baginda menerima usul yang cemerlang itu dengan hati bulat.
Setelah ulama yang berilmu tinggi berhasil ditemukan, Baginda Raja
menanyakan cara terbaik menjerat Abu Nawas. Ulama itu memberi tahu cara-
cara yang paling jitu kepada Baginda Raja. Baginda Raja manggut-manggut
setuju. Wajah Baginda tidak lagi murung. Apalagi ulama itu menegaskan bahwa
ramalan Abu Nawas tentang takdir kematian Baginda Raja sama sekali tidak
mempunyai dasar yang kuat. Tiada seorang pun manusia yang tahu kapan dan
di bumi mana ia akan mati apalagi tentang ajal orang lain.

Ulama andalan Baginda Raja mulai mengadakan persiapan seperlunya untuk
memberikan pukulan fatal bagi Abu Nawas. Siasat pun dijalankan sesuai
rencana. Abu Nawas terjerembab ke lubang siasat sang ulama. Abu Nawas
melakukan kesalahan yang bisa menghantarnya ke tiang gantungan atau tempat
pemancungan.

Benarlah peribahasa yang berbunyi sepandai-pandai tupai melompat pasti suatu
saat akan terpeleset. Kini, Abu Nawas benar-benar mati kutu. Sebentar lagi ia
akan dihukum mati karena jebakan sang ilmuwan-ulama.

Benarkah Abu Nawas sudah keok?

Kita lihat saja nanti.
Banyak orang yang merasa simpati atas nasib Abu Nawas, terutama orang-orang
miskin dan tertindas yang pernah ditolongnya. Namun derai air mata para
pecinta dan pengagum Abu Nawas tak akan mampu menghentikan hukuman
mati yang akan dijatuhkan.

Baginda Raja Harun Al Rasyid benar-benar menikmati kernenangannya. Belum
pernah Baginda terlihat seriang sekarang.

Keyakinan orang banyak bertambah mantap. Hanya sat orang yang tetap tidak
yakin bahwa hidup Abu Nawas aka berakhir setragis itu, yaitu istri Abu Nawas.
Bukankah Alia Azza Wa Jalla lebih dekat daripada urat leher. Tidak ada yang
tidak mungkin bagi Allah Yang Maha Gagah. Dan kematian adalah mutlak
urusan-Nya. Semakin dekat hukuman mati bagi Abu Nawas. Orang banyak
semakin resah. Tetapi bagi Abu Nawas malah sebaliknya. Semakin dekat
hukuman bagi dirinya, semakin tegar hatinya.

Baginda Raja tahu bahwa ketenangan yang ditampilkan Abu Nawas hanyalah
merupakan bagian dari tipu dayanya. Tetapi Baginda Raja telah bersumpah
pada diri sendiri bahwa beliau tidak akan terkecoh untuk kedua kalinya.
Sebaliknya Abu Nawas juga yakin, selama nyawa masih melekat maka harapan
akan terus menyertainya. Tuhan tidak mungkin menciptakan alam semesta ini
tanpa ditaburi harapan-harapan yang menjanjikan. Bahkan dalam keadaan yang
bagaimanapun gawatnya.

Keyakinan seperti inilah yang tidak dimiliki oleh Baginda Raja dan ulama itu.
Seketika suasana menjadi hening, sewaktu Bagin Raja memberi sambutan
singkattentang akan dilaksanakan hukuman mati atas diri terpidana mati Abu
Nawas. Kemudian tanpa memperpanjang waktu lagi Baginda Raja menanyakan
permintaan terakhir Abu Nawas. Dan pertanyaan inilah yang paling dinanti-
nantikan Abu Nawas.

"Adakah permintaan yang terakhir"

"Ada Paduka yang mulia." jawab Abu Nawas singkat.

"Sebutkan." kata Baginda.

"Sudilah kiranya hamba diperkenankan memilih hukuman mati yang hamba
anggap cocok wahai Baginda yang mulia." pinta Abu Nawas.

"Baiklah." kata Baginda menyetujui permintaan Abu Nawas..

"Paduka yang mulia, yang hamba pinta adalah bila pilihan hamba benar hamba
bersedia dihukum pancung, tetapi jika pilihan hamba dianggap salah maka
hamba dihukum gantung saja." kata Abu Nawas memohon.
"Engkau memang orang yang aneh. Dalam saat-saat yang amat genting pun
engkau masih sempat bersenda gurau. Tetapi ketahuilah bagiku segala tipu
muslihatmu hari ini tak akan bisa membawamu kemana-mana." kata Baginda
sambil tertawa.
"Hamba tidak bersenda gurau Paduka yang mulia." kata Abu Nawas bersungguh-
sungguh.

Baginda makin terpingkal-pingkal. Belum selesai Baginda Raja tertawa-tawa,
Abu Nawas berteriak dengan nyaring.

"Hamba minta dihukum pancung!"

Semua yang hadir kaget. Orang banyak belum mengerti mengapa Abu Nawas
membuat keputusan begitu. Tetapi kecerdasan otak Baginda Raja menangkap
sesuatu yang lain. Sehingga tawa Baginda yang semula berderai-derai
mendadak terhenti. Kening Baginda berkenyit mendengar ucapan Abu Nawas.
Baginda Raja tidak berani menarik kata-katanya karena disaksikan oleh ribuan
rakyatnya.

Beliau sudah terlanjur mengabulkan Abu Nawas menentukan hukuman mati
yang paling cocok untuk dirinya.
Kini kesempatan Abu Nawas membela diri.

"Baginda yang mulia, hamba tadi mengatakan bahwa hamba akan dihukum
pancung. Kalau pilihan hamba benar maka hamba dihukum gantung. Tetapi di
manakah letak kesalahan pilihan hamba sehingga hamba hams dihukum
gantung. Padahal hamba telah memilih hukuman pancung?"

Olah kata Abu Nawas memaksa Baginda Raja dan ulama itu tercengang. Benar-
benar luar biasa otak Abu Nawas ini. Rasanya tidak ada lagi manusia pintar
selain Abu Nawas di negeri Baghdad ini.

"Abu Nawas aku mengampunimu, tapi sekarang jawablah pertanyaanku ini.
Berapa banyakkah bintang di langit?"

"Oh, gampang sekali Tuanku."

"Iya, tapi berapa, seratus juta, seratus milyar?" tanya Baginda.

"Bukan Tuanku, cuma sebanyak pasir di pantai."

"Kau ini.... bagaimana bisa orang menghitung pasir di pantai?"

"Bagaimana pula orang bisa menghitung bintang di langit?"

"Ha ha ha ha ha...! Kau memang penggeli hati.

Kau adalah pelipur laraku. Abu Nawas mulai sekarang jangan segan-segan,
sering-seringlah datang ke istanaku. Aku ingin selalu mendengar lelucon-
leluconmu yang baru!"

"Siap Baginda !"